Sejalan dengan perkembangan ekonomi digital di mana Indonesia perlahan-lahan bergerak menuju ekosistem terbesar se-Asia Tenggara, masyarakat semakin familiar dengan berbagai pilihan dan layanan bertransaksi, salah satunya dalam mengajukan pinjaman atau pembiayaan. Orang-orang awam yang dulu seringkali mengandalkan teman atau keluarga atau bahkan bank untuk meminjam uang, kini mulai beralih ke alternatif teknologi finansial atau tekfin seperti peer-to-peer (P2P) lending. Alasannya tentu karena proses yang lebih mudah dan cepat. Namun ternyata, masih banyak masyarakat yang belum begitu mengerti tentang konsep P2P lending dan menyamakannya dengan payday loan.

Meski seringkali dianggap serupa karena sifatnya yang jangka pendek, P2P lending di bawah naungan tekfin dengan payday loan memiliki model bisnis yang sama sekali berbeda. Lebih luas lagi, industri tekfin lending di Tanah Air juga terdiri dari berbagai macam bentuk dan segmentasi. Ada yang berfokus pada dana talangan konsumen dengan nominal di bawah Rp 3 juta dengan termin pinjaman kurang dari 1 minggu, ada pula yang hanya melayani pinjaman untuk modal Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) hingga Rp 2 miliar dengan termin pinjaman 1 – 12 bulan. P2P lending sendiri bekerja sesuai dengan jenis yang kedua di mana hal tersebut mempengaruhi ciri-ciri produk dan pendekatan mitigasi risiko yang dimiliki. Secara definitif, P2P lending merupakan layanan yang menghubungkan orang yang ingin mengajukan pinjaman dengan orang yang bersedia memberikan pinjaman melalui sebuah online platform yang disebut marketplace.

Perbedaan P2P lending dan payday loan terletak pada berbagai hal. Aspek pertama adalah tingkat bunga, di mana P2P lending menawarkan bunga yang relatif rendah mulai dari 5% – 30% per tahun, sedangkan payday loanmenawarkan bunga harian mulai dari 1% atau mencapai angka 300% per tahun. Dalam menentukan bunga pinjaman, P2P lending senantiasa mengacu pada tingkat bunga pinjaman bank atau lembaga keuangan lainnya dengan menekankan poin aksesibilitas dan kecepatan proses serta persediaan dan permintaan di mana pemberi pinjaman turut melihat kondisi pasar. Hal ini dikarenakan P2P lending tidak mengambil keuntungan dari biaya bunga—keseluruhannya menjadi milik pemberi pinjaman. Pada praktiknya, masyarakat unbankable seperti UMKM seringkali mengalami kesulitan mengajukan pinjaman dari bank atau lembaga keuangan lainnya karena diminta untuk menyerahkan jaminan. Dengan P2P lending, keinginan mereka untuk mendapatkan pinjaman akhirnya dapat difasilitasi melalui proses yang aman, mudah, dan cepat.

Aspek kedua adalah jatuh tempo pinjaman. Tenor pinjaman pada P2P lending bisa bermacam-macam tergantung keinginan peminjam, namun rata-rata sekitar 6 bulan dengan minimal tenor umum 30 hari, sedangkan payday loanharus dibayarkan pada satu waktu—tidak bisa melalui cicilan—dan terdapat biaya tambahan jika peminjam terlambat membayar. Aspek ketiga adalah biaya tambahan. Melalui P2P lending, peminjam hanya perlu membayar bunga yang telah ditetapkan hingga pinjaman terbayar penuh, sedangkan melalui payday loan, peminjam diperbolehkan untuk memperpanjang masa pinjamannya namun harus membayar biaya tambahan. Di sinilah pemberi pinjaman mendapatkan keuntungan paling banyak.

Hal penting lain yang membedakan P2P lending dengan payday loan adalah aspek penilaian risiko untuk menekan angka non-performing loanP2P lending sangat mempertimbangkan kondisi finansial peminjam. Pada prosesnya, penyedia layanan P2P lending akan mengadakan analisis kredit untuk menentukan risiko peminjam secara keseluruhan. Sedangkan payday loan tidak mempertimbangkan kondisi finansial peminjam. Kemampuan untuk mengembalikan pinjaman kerap kali diabaikan selama pengajuan sudah memenuhi ketentuan memiliki dokumen slip gaji. Dari segi perolehan keuntungan, P2P lending memotong biaya administrasi dari peminjam, bukan biaya bunga seperti yang dilakukan oleh payday loan. Keuntungan tersebut kemudian dimanfaatkan oleh P2P lendinguntuk kegiatan mitigasi risiko sehingga tetap memberikan manfaat baik bagi penyedia layanan P2P lending, peminjam, maupun pemberi pinjaman.

Selain itu, P2P lending yang juga disebut dengan “pinjaman gotong royong” sangat mengedepankan transparansi. Segala informasi yang dibutuhkan oleh peminjam atau pemberi pinjaman disediakan secara lengkap di situs tiap-tiap penyedia layanan P2P lending, tak hanya yang berkaitan dengan produk dan cara kerja tetapi juga penjelasan tentang perhitungan bunga, risiko, dan profil pemilik sehingga masyarakat dapat mencermati secara langsung. Seluruh peminjam dan pemberi pinjaman yang terdaftar pun akan disediakan dasbor untuk memantau proses pendanaan pinjaman yang sedang berjalan di situs tersebut. Dan jika ditelaah lebih lanjut, P2P lendingcenderung menghadirkan produk yang beragam untuk memenuhi setiap lini kebutuhan masyarakat terutama yang bersifat produktif. Sementara payday loan hanya menyajikan produk tunggal yaitu pinjaman cepat yang biasa digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumtif.

Sejak awal, konsep P2P lending dihadirkan oleh para pemainnya dengan tujuan untuk menjembatani kesenjangan akses keuangan, terlebih untuk memfasilitasi pembiayaan bagi pengembangan bisnis UMKM. Hal ini sejalan dengan program inklusi keuangan yang telah dicanangkan oleh pemerintah, utamanya Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dengan menawarkan prosedur dan proses pinjam meminjam yang mudah dan cepat namun tetap dengan mempertimbangkan seleksi berdasarkan tingkat risiko yang seksama, P2P lending banyak dimanfaatkan oleh mereka yang belum memiliki akses terhadap perbankan seperti industri kreatif, pekerja lepas atau paruh waktu, buruh tani, nelayan, dan lain sebagainya, sehingga mampu mengisi kesenjangan pembiayaan individu dan UMKM yang tinggi di Indonesia. Itulah mengapa tekfin mempunyai potensi yang sangat besar untuk membantu mewujudkan inklusi finansial sesuai dengan Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI), dengan prioritas agenda nasional yaitu membuka akses layanan keuangan kepada sedikitnya 75% penduduk Indonesia yang belum bankable.

Oleh karena itu, masyarakat harus senantiasa bijak dalam membedakan dan memilih produk pinjaman berbasis tekfin. Hal termudah adalah dengan memperhatikan kredibilitas pemilik dan terdaftarnya sebuah perusahaan layanan tekfin di OJK. Masyarakat disarankan jeli dengan atribut-atribut seperti apakah perusahaan layanan tekfin tersebut melakukan audit secara berkala dengan auditor eksternal yang kredibel dan berapa banyak penghargaan yang telah diperoleh. OJK selaku regulator juga diharapkan mampu memberikan edukasi akurat yang lebih luas tentang tekfin agar masyarakat semakin paham dan bersedia menggunakan tekfin sebagai solusi pembiayaan yang efisien, terutama bagi UMKM di Indonesia. Mendukung geliat sharing economy yang semakin menjamur, dalam hal ini, Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) berkomitmen untuk terus mendukung terbentuknya regulasi yang bijak terkait dengan tekfin serta saling memelihara kredibilitas pemain dan tata kelola usaha tekfin. Tak ketinggalan “Pedoman Perilaku Layanan Pinjam Meminjam Daring yang Bertanggung Jawab” yang sedang dipersiapkan untuk dipresentasikan di hadapan seluruh pemangku kepentingan terkait dalam waktu dekat, sehingga cita-cita inklusi finansial yang nyata dapat segera terwujud.

Sumber : https://www.investree.id/blog/peer-to-peer-lending/membedakan-peer-to-peer-lending-dan-payday-loan

Leave a Reply